Cita-cita menghadirkan sekolah berasrama bagi anak-anak Tanah Bumbu akhirnya terwujud. Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif secara resmi membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kabupaten Tanah Bumbu di Jalan Kodeco, Desa Mekarsari, Kecamatan Simpang Empat, Sabtu (15/8/2026).
Pembukaan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Sekolah Rakyat Tahap 3 yang digelar serentak di berbagai daerah. SR Terintegrasi 1 Tanah Bumbu menjadi salah satu dari 25 lokasi yang melaksanakan MPLS pada tahap tersebut.
Sebanyak 270 peserta didik mengikuti program pendidikan Tahun Ajaran 2026/2027. Mereka terdiri atas 90 siswa jenjang Sekolah Dasar, 90 siswa Sekolah Menengah Pertama, dan 90 siswa Sekolah Menengah Atas.
Selain mengikuti pendidikan dengan pola berasrama, para peserta didik juga menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari tahap awal program pendidikan.
Bagi Andi Rudi Latif, kehadiran Sekolah Rakyat memiliki arti khusus. Ia mengungkapkan, keinginan menghadirkan boarding school bagi anak-anak Tanah Bumbu telah muncul jauh sebelum dirinya menjabat sebagai bupati.
“Alhamdulillah, melalui program Sekolah Rakyat yang digagas Bapak Presiden Prabowo Subianto, cita-cita tersebut mendapatkan jalan untuk diwujudkan,” kata Andi Rudi Latif.
SR Terintegrasi 1 Tanah Bumbu berdiri di kawasan seluas sekitar 11,2 hektare. Program tersebut ditujukan untuk memperluas akses pendidikan yang berkualitas, khususnya bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan dukungan sosial dan ekonomi.
Menurut Andi Rudi Latif, pendidikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tanah Bumbu yang selama ini berkembang dengan kekuatan sumber daya alam, kata dia, perlu terus diarahkan menuju pembangunan yang bertumpu pada kualitas manusia.
“Investasi pada pendidikan merupakan investasi yang sangat strategis. Melalui pendidikan, kita membangun kemampuan berpikir, karakter, keterampilan, produktivitas, serta daya saing generasi penerus,” jelasnya.
Ia berharap Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk membantu memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Keberadaan sekolah dan asrama tersebut juga dinilai dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Berbagai kebutuhan pendukung, seperti pangan, laundry, transportasi, pemeliharaan, hingga layanan lainnya, berpotensi melibatkan masyarakat sekitar.
“Pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi juga tentang membangun manusia yang berkualitas,” tegas Andi Rudi Latif.